Senin, 03 April 2017

cerita dongeng putri raja banggai dan keberanian tanduk alam

Cerita Dongeng Putri Raja Banggai dan Keberanian Tanduk Alam

Legenda Tanduk Alam – Cerita Rakyat Sulawesi Tengah

Tanduk Alam adalah seorang penyebar agama yang berasal dari Palembang. Dia dikenal orang yang bijaksana dan berwawasan luas. Untuk menyebarkan ajaran agama, ia berlayar sampai ke Negeri Banggai, Sulawesi Tengah.
Cerita Dongeng Putri
Cerita Dongeng Putri
Di tempat tinggalnya yang baru ini, ia bekerja sebagai ahli emas. Ia membuat bermacam- macam perhiasan emas dan salah satu pelanggannya adalah Adi Cokro, raja Banggai. Selain membuat perhiasan, Tanduk Alam juga mengajarkan agama dan memberikan nasihat kepada rakyat Banggai. Hal itulah yang membuat Baginda Adi Cokro menyukai Tanduk Alam. Menurutnya, Tanduk Alam membuat kehidupan rakyatnya menjadi Iebih balk.
Suatu hari, Baginda Adi Cokro kebingungan. Putri kesayangannya hilang. Ia segera mengerahkan empat orang basalo atau pembantunya untuk mencari sang putri. Setelah melakukan pencarian selama beberapa hari, para basalo itu melaporkan bahwa putri telah diculik oleh orang-orang Tobelo. Menurut kabar, putri disembunyikan di Pulau Sagu.
Orang-orang Tobelo melakukan itu atas perintah Raja Ternate karena ingin menguasai kerajaan Banggai.
"Pergilah ke Pulau Sagu. Selamatkan putriku," perintah Baginda Adi Cokro kepada keempat basalonya.
Dengan membawa pasukan, keempat basalo itu berlayar ke Pulau Sagu. Terjadi pertempuran hebat antara pasukan Kerajaan Banggai yang dipimpin empat orang Basalo dengan pasukan dari Kerajaan Ternate. Walaupun pasukan Kerajaan Banggai bertempur dengan gagah berani, namun pada akhir pertempuran mereka gagal membebaskan sang Putri.
Pasukan musuh yang ada di Pulau Sagu sangat besar jumlahnya. Keempat basalo dan pasukannya yang masih tersisa kembali ke negeri Banggai untuk menghadap Baginda Adi Cokro.
"Maafkan kami Baginda, jumlah mereka jauh lebih banyak," kata salah seorang basalo. Baginda Adi Cokro duduk termenung dengan wajah sedih, ia sungguh mencemaskan keselamatan putrinya.
Cerita Dongeng Putri Raja Banggai
Cerita Dongeng Putri Raja Banggai
Tiba-tiba basalo lain bernama Tano Bonunungan berkata, "Bagaimana jika kita minta pendapat Tanduk Alam? Ia adalah orang yang bijaksana dan cerdas, hamba yakin ia pasti dapat membantu kita."
"Hmm, kau benar juga. Selama ini ia selalu membantu kita memecahkan masalah. Cepat kau panggil dia untuk menghadapku," perintah Baginda Adi Cokro.
Tano Bonunungan segera bergegas menuju kediaman Tanduk Alam.
"Ampun Baginda, hamba siap menerima perintah dari Baginda," kata Tanduk Alam saat menghadap Baginda Adi Cokro.
"Tolong temukan putriku, aku sangat mencemaskannya," keluh Baginda Adi Cokro. "Baiklah Baginda, hamba akan berusaha membantu. Namun sebaiknya hamba tak usah membawa pasukan, karena semakin banyak pasukan akan semakin banyak pula korban yang berjatuhan," jawab Tanduk Alam.
"Jika begitu, kami semua akan menemanimu," sahutTano Bonunungan. Baginda Adi Cokro dan Tanduk Alam setuju.
Keesokan harinya, Tanduk Alam dan keempat basalo berangkat menuju Pulau Sagu. Mereka sudah memutuskan, bahwa hanya Tanduk Alam yang akan memasuki Pulau Sagu. Keempat basalo akan berjaga-jaga di perahu jika seandainya orang-orang Tobelo memergoki Tanduk Alam. Tak terasa, perahu mereka telah tiba di pinggir Pulau Sagu.
"Tanduk Alam, apakah tidak berbahaya jika kau pergi sendiri?" tanya salah seorang basalo. "Bila Tuhan mengizinkan, aku pasti bisa menyelamatkan tuan putri," jawab Tanduk Alam.
Setelah berkata demikian, Tanduk Alam memanjatkan doa. Tiba-tiba, keajaiban terjadi. Tubuh Tanduk Alam menghilang dari perahu. Rupanya Tanduk Alam memiliki kesaktian untuk menghilang. Dengan mudahnya ia melewati orang-orang Tobelo yang menjaga rumah tempat persembunyian putri.
Cerita Dongeng Putri dan Tanduk Alam
Cerita Dongeng Putri dan Tanduk Alam
Tanduk Alam memasuki satu kamar. Dilihatnya, Putri sedang tidur. Dengan berbisik, ia membangunkan Putri.
"Putri, bangunlah. Aku diutus oleh Baginda untuk menyelamatkanmu."
Putri mengucek matanya tak percaya, "Bagaimana kau bisa masuk ke sini? Dan bagaimana kita bisa keluar tanpa ketahuan?" bisik sang Putri.
"Percaya saja padaku. Sekarang pejamkan mata dan peganglah tanganku," jawab Tanduk Alam.
Putri menurut saja. Ia memejamkan matanya, sambil menggenggam kedua tangan sang Putri, Tanduk Alam melayangkan doa. Sesaat kemudian, keduanya menghilang dari ruangan itu. Saat Putri membuka mata, mereka sudah berada di atas perahu. Keempat basalo itu terkejut bukan kepalang saat melihat Tanduk Alam dan Putri muncul secara tiba-tiba di samping mereka.
"Ayo Basalo, kita harus segera meninggalkan pulau ini," perintah Tanduk Alam. Keempat basalo itu dengan sigap menuruti perintah Tanduk Alam, mereka segera berlayar kembali ke Negeri Banggai.
Baginda Adi Cokro menyambut kedatangan putrinya dengan suka-cita. Sebagai ucapan terima kasih, ia menawarkan hadiah pada Tanduk Alam.
"Sebutkan saja apa yang kau mau, aku akan mengabulkannya," kata Raja.
"Hamba tidak memiliki keinginan muluk-muluk. Jika Baginda berkenan, hamba membutuhkan sebidang tanah untuk ditanami buah-buahan," jawab Tanduk Alam.
Baginda Adi Cokro terkesan dengan permintaan Tanduk Alam yang sederhana itu. Ia segera memerintahkan prajuritnya untuk membuka lahan yang akan diberikan pada Tanduk Alam.
Beberapa tahun kemudian, lahan pemberian Baginda Adi Cokro telah berubah menjadi kebun buah-buahan yang subur.
Kebun itu tidak hanya membawa manfaat bagi Tanduk Alam sendiri, tapi juga pada orang-orang di sekitarnya. Mereka yang bekerja membantu Tanduk Alam mendapat upah atas jerih payah mereka.
Tanduk Alam juga tak pelit berbagi ilmu berkebun, banyak penduduk yang kemudian sukses menanam di kebun mereka sendiri. Sambil berkebun, Tanduk Alam tetap menyebarkan agama pada penduduk di sekitarnya. Tanduk Alam hidup di negeri Banggai hingga akhir hayatnya.
Pesan moral dari Cerita Dongeng Putri Raja Banggai dan Tanduk Alam untukmu Sebaiknya kita tidak mengharapkan balasan saat melakukan kebaikan. Jika kita ikhlas melakukannya, niscaya kita akan mendapatkan balasan dari Tuhan berupa kemudahan dalam hidup.

Minggu, 02 April 2017

cerita rakyat"MOLOKOIMBU"di selat peleng

Gurita Raksasa “ Molokoimbu” di Selat Peleng

Ilustrasi
Ilustrasi

Monster laut berupa gurita raksasa bukanlah hal yang baru, gurita raksasa banyak muncul di legenda-legenda beberapa Negara seperti jepang, dan bahkan sudah menjadi bagian dari cerita rakyat dari Negara-negara.
Di perairan Selat Peling antara Kabupaten Banggai dan Kepulauan Peling, cerita gurita raksasa tidak sekedar melegenda, namun hal itu dipercaya dan masih ada. Kraken di daerah ini dikenal dengan nama “Molokoimbu”
Penampakan Molokoimbu selalu ada ketika pergantian tahun, wujud yang tak nampak namun hanya berupa bola lampu yang muncul meninggi di permukaan laut. Warga percaya lampu lampu berjarak cukup jauh itu sengaja di munculkan molokoimbu dengan menggunakan tentakelnya.
Menurut warga yang berprofesi sebagai pelaut, Molokoimbu dipercaya suka mengganggu pelayaran yang melanggar kepercayaan setempat. Ada unsur “Pamali” misalnya Ketika berada di laut, entah itu sedang memancing atau dalam perjalanan menyeberang pulau jangan coba coba menyebut, memanggil apalagi memplesetkan kata “Molokoimbu”, jika itu dilanggar maka mahluk ini bakal menerbalikan kapal dengan cara menjerat badan kapal dengan tentakel raksasa mereka.
“Believe or not” Molokoimbu atau gurita raksasa selalu ada disetiap pergantian tahun, beberapa warga Desa Abason Kecamatan Totikum Kabupaten Banggai Kepulauan mereka mengaku sering menyaksikan hal itu dari pesisir pantai. “ Dari kejauhan ada rangkaian lampu menyala sekitar empat atau Sembilan membentuk sudut sudut bujur sangkar, dan lampu itu berasal dari ujung tentakel Molokoimbu,” ujar Afly warga setempat.
Sedangkan dieropa,  Salah satu dari kisah gurita raksasa itu adalah “legenda Kraken”. Puisi buatan tennyson didasarkan oleh monster laut yang legendaris yang pernah terlihat di pesisir Norwegia dan iceland. Bedasarkan laporan dari pelaut, kraken adalah mahluk yang memiliki ukuran yang luar biasa yang bisa saja menyerang kapal. Dengan menjerat badan kapal dengan tentakelnya. Mungkin saat ini kraken disebut sebagai gurita raksasa. Legenda kraken bersumber dari laporan pelaut perancis dimana kapalnya diserang ketika kapal mereka sedang bertolak dari pesisir angola.

masih banyak cerita lain tentang Molokimbu atau gurita raksasa, salah satunya dari bahama. Oleh penduduk setempat disebut dengan Lusca. Lusca adalah mahluk yang dilihat oleh penduduk bahama untuk waktu beberapa tahun. [IRF]
 

cerita rakyat sulawesi tengah"PUTRI DUYUNG"

Cerita Rakyat Sulawesi Tengah : Legenda Putri Duyung

Penyesalan seorang ibu pada Cerita Rakyat Sulawesi Tengah : Legenda Putri Duyung menjadi hal yang sangat mengharukan. Amanat moral dari cerita ini adalah kita harus berhati-hati dalam mengambil keputusan, serta selalu menjaga amanah yang dipercayakan pada kita.

Legenda Putri Duyung – Cerita Rakyat dari Sulawesi Tengah

"Nyam, ikan ini lezat sekali," kata si Sulung. Ibu tersenyum mendengar ucapan anaknya. Mereka sekeluarga memang jarang makan ikan. Sehari-hari, suaminya hanya menanam ubi dan jagung di ladang, itulah yang mereka makan.
Cerita Rakyat Sulawesi Tengah
Cerita Rakyat Sulawesi Tengah
"Bu, boleh aku tambah ikannya lagi?" tanya si Tengah. "Boleh saja, Nak. Makanlah sampai kenyang," jawab Ibu sambil menyuapi si Bungsu.
Sang Ayah diam saja. Ia tak menduga anak-anaknya begitu suka pada ikan hasil tangkapannya itu. Nanti ia akan pergi lagi ke laut, siapa tahu ia mendapat ikan lagi. "Bu, aku pergi dulu ya. Sisakan satu ekor ikan untuk makan siangku nanti. Sesudah ke ladang, aku akan ke laut sebentar. Siapa tahu aku bisa mendapatkan ikan," pamitnya pada ibu. Ibu mengangguk mengiyakan dan berangkatlah ayah ke ladang.
Setelah Ayah pergi, Ibu membereskan rumah. Ia menyimpan sisa ikan dan nasi ke lemari makan. Ketiga anaknya asyik bermain. Mereka berkejar-kejaran dan berteriak-teriak dengan riang. Ibu itu tersenyum melihat tingkah laku anak-anaknya. Dalam hati ia bersyukur, hari ini bisa memberikan sedikit makanan enak pada mereka.
Hari menjelang siang ketika si Bungsu merengek. "Bu, aku lapar. Aku mau makan nasi don ikan seperti tadi pagi," katanya. Rupanya ia lapar setelah lelah bermain dengan kedua kakaknya. \
"Jangan Nak, lebih baik kau makan ubi rebus saja. Ayo, sini Ibu ambilkan," jawab Ibu.
"Tidak mau Bu, aku mau makan nasi dan ikan," rengek si Bungsu lagi. Kali ini ia merengek sambil menangis. Tapi Ibu tetap bersikukuh. Ia tak mau memberikan ikan itu pada anak bungsunga. Ia tahu benar tabiat suaminya, jika sudah berpesan, harus dilaksanakan.
Karena permintaannya tak dikabulkan, maka si Bungsu menangis berguling-guling di tanah. Sambil meraung-raung, "Ibuuu, aku laparrrr...." Teriak si Bungsu.
Tak tega melihat keadaan itu, akhirnya Ibu mengalah. Ia menyuapkan nasi dan ikan pada si Bungsu. Si Sulung dan si Tengah yang melihat adiknya makan ikan, ikut meminta pada Ibu. Mereka pun makan ikan sisa dari Adiknya yang bungsu.
Apa yang terjadi kemudian? Ya, tak ada lagi secuil ikan pun untuk Ayah. Ikan yang disimpan Ibu habis tak bersisa. "Apa boleh buat, aku akan menjelaskannya pada suamiku nanti," kata Ibu dalam hati.
Sang Ayah pulang dari laut. Kali ini ia tak berhasil mendapat ikan seekor pun. Ia sangat kesal, apalagi ubi di ladangnya juga dirusak babi hutan.
Contoh Cerpen Cerita Rakyat Asal Mula Ikan Duyung
Contoh Cerpen Cerita Rakyat Asal Mula Ikan Duyung
"Istriku, aku sangat lelah dan lapar. Tolong siapkan makan siangku," pintanya pada Ibu. "Lho, mana ikan sisa sarapan tadi? Bukankah aku sudah bilang untuk menyisakan satu untukku?" tanyanya ketika melihat istrinya hanya menghidangkan ubi rebus.
"Iya Bang, aku tadi sudah simpan. Tapi apa boleh buat, anak-anak lapar dan minta makan lagi. Akhirnya ikan itu habis dimakan mereka," jawab Ibu. "Apa? Teganya kau melakukan ini pada suamimu? Aku bekerja keras seharian dan kau menghabiskan semua ikan yang kutangkap dengan susah payah?" teriak suaminya.
Ibu hanya terdiam, ia paham benar watak suaminya yang pemarah. Ia minta maaf dan berjanji akan menuruti pesan suaminya. Tapi berulang kaii ibu meminta maaf, sang suami tetap saja mengomel dan menghardiknya dengan kata-kata yang tak pantas. Hati ibu sakit sekali, sehingga ia memutuskan untuk meninggalkan rumah. Ya, ia tak tahan lagi pada perlakuan suaminya.
Keesokan paginya, ketika ketiga anaknya bangun, mereka bingung mencari ibunya. Ayahnya hanya mengedikkan bahu ketika mereka bertanya ke mana ibunya.
"Mungkin ke laut untuk mencari ikan untuk kalian. Bukankah kalian sangat menyukai ikan?" jawab sang Ayah tak peduli. Lalu, ketiga anak itu pergi ke laut.
Mereka berteriak-teriak memanggil ibunya, "Ibuuu... Ibuu... Ibu di mana? Si Bungsu lapar, ia mau menyusu."
Tiba-tiba, muncullah ibu dari arah laut lepas. Ia membawa beberapa ekor ikan di tangannya. Ia segera memeluk ketiga anaknya dan menyusui si Bungsu. "Pulanglah kalian, bawa ikan ini untuk makan slang kalian," katanya setelah selesai menyusui. "Ibu tidak ikut pulang?" tanya si Sulung.
"Nanti Ibu akan menyusul kalian," jawabnya singkat. Lalu ia kembali ke tengah lautan.
Ketiga anak itu pulang sambil membawa beberapa ekor ikan. Si Sulung memanggang ikan itu untuk lauk makan siang mereka. Sudah sore, Ibu belum juga pulang. Ketiga anak itu bertahan menunggu ibunya hingga larut malam, tapi Ibu tak juga pulang. Akhirnya mereka tertidur, sedangkan sang Ayah tak peduli sedikit pun dengan keadaan istrinya.
Cerita Rakyat dari Sulawesi Tengah
Cerita Rakyat dari Sulawesi Tengah
Keesokan harinya, ketiga anak itu kembali ke laut. Mereka memanggil-manggil ibunya." Ibu disini Nak, kemarilah kalian." Terdengar suara Ibu menjawab panggilan mereka.
Ketiga anak itu terkejut melihat ibunya. Wajahnya memang wajah ibu mereka namun badannya sungguh mengerikan. Badannnya penuh sisik dan tidak berkaki. Si Ibu memiliki ekor sama persis seperti ikan.
Si Bungsu menangis keras melihat ibunya, ia bahkan menolak untuk di susui.
Si Sulung marah." Kau bukan ibu kami, kau pasti ikan yang mencelakai Ibu kami. Ibu ibu dimana ibu?" teriak si Sulung.
"Percayalah Nak, aku ini ibumu. Ibu berubah Seperti ini karena bertekad untuk tinggal di laut. Ibu sudah tidak tahan dengan perlakuan ayah kalian." Si Ibu mencoba menjelaskan. Namun ketiga anaknya bergeming. Mereka malah meninggalkan ibunya dan pulang kerumah. Hati wanita yang saat ini berubah wujud menjadi manusia setengah ikan sangat hancur. Ia tidak menyangka keputusannya akan memisahkannya dengan anak-anak yang sangat dicintainya. Ia hanya bisa menangis dan kembali ke laut. Sejak saat itu dia dikenal dengan nama ikan duyung. Karena kecantikannya banyak juga orang yang menyebut Putri duyung.
Pesan moral dari Cerita Rakyat Sulawesi Tengah : Legenda Putri Duyung untukmu adalah janganlah menyakiti hati orang lain. Berhati-hatilah dalam mengambil keputusan supaya tidak menyesal di kemudian hari.